Archive for May, 2008

Syair -syair

Monday, May 26th, 2008

SYAIR-SYAIR

Jangan berbicara tanpa ‘ilmu / tanpa dalil ::

Apabila pondasi (akar)nya tidak kuat
Maka cabangnya pun akan demikian sepanjang masa

Jika para pendakwa tidak menopang dalilnya dengan argumentasi
Maka dia berada di atas selemah-lemahnya dalil

Para pendakwa yang tidak menopang dakwaannya dengan argumentasi
Maka dia hanyalah para pendakwa belaka

Memaksa ::

Apabila tidak ada yang lain melainkan hanya tombak untuk dikendarai
Maka tidak ada jalan lain bagi yang terpaksa kecuali menaikinya.

Bodoh ::
Semoga Alloh melindungi dari bidikan anak panah mereka
Sungguh naf orang yang membidikkan anak panahnya ke bulan

Mereka berucap suatu ucapan yang mereka sendiri tidak memahaminya
Dan bila dikatakan: buktikanlah maka mereka tidak mampu membuktikannya

Saat selesai menulis ::
Ketika saya menulis saya yakin
Bahwa tanganku akan binasa sedang tulisanku kekal
Dan saya tahu bahwa Alloh pasti akan menanyaiku
Aduhai, apakah nanti jawabnya

Curang / standard ganda ::
Apakah pohon besar itu haram bagi burung bulbul
Tetapi halal bagi burung jenis lainnya

Jangan mencari masalah ::
Bila rumahmu terbuat dari kaca
Maka jangan lempari rumah orang lain dengan batu

Jika selalu salah faham ::
Berapa banyak orang yang mencela ucapan yang benar
Sebabnya karena pemahaman yang salah/buruk

Seandainya kamu faham ucapanku niscaya kamu akan memaafkanku
Atau aku mengetahui ucapanmu maka aku mengkritikmu
Tetapi engkau tidak faham ucapanku sehingga mencelaku
Dan aku tahu bahwa kamu tidak faham maka aku memaafkanmu

Tugasku adalah mengukir bait-bait syair dari sumbernya
Dan bukanlah tugasku jika sapi itu tidak paham

Dusta ::
Maha Suci Allah, Ini sungguh adalah suatu kedustaan yang besar.

Di sisi kalian dusta itu sangat murah harganya
Tanpa ditakar dan ditimbang mereka menghamburkannya

Jika tidak mengerti (bingung) / tidak kompeten ::
Apabila engkau tidak melihat bulan sabit maka serahkanlah
Kepada manusia yang melihatnya dengan mata kepala

Janganlah engkau menyelam ke suatu pembicaraan
yang engkau tidak berhak mendengarkannya

Kijang itu begitu banyak di hadapan Khirasy (sebangsa serigala)
Sehingga dia tidak tahu mana yang harus diburu terlebih dahulu

Waktu akan menampakkan apa yang tidak kamu ketahui
Dan datang memberimu berita tentang apa yang tak kamu ketahui

Setiap ucapan ada tempatnya dan setiap tempat ada ucapannya tersendiri

Tidak Sejalan ::
Dia berjalan ke timur dan aku berjalan ke barat
Aduhai alangkah jauhnya timur dan barat

Dia berjalan ke arah timur dan aku berjalan ke arah barat
Kapankah akan bertemu yang ke timur dengan yang ke barat ?!

Semua mengaku-ngaku punya hubungan dengan Laila
Namun Laila memungkiri semua pengaku-akuan itu

Pedang itu tidak memuji setiap orang yang membawanya
Cukuplah bagi kalian perbedaan diantara kita
Dan setiap bejana memercikkan isinya

Menolak Kebenaran ::
Pandangan simpati menutup segala cela
Sebagaimana pandangan benci menampakkan segala cacat

Barangsiapa yang merasa sakit mulutnya
Niscaya air yang tawar akan terasa pahit baginya

Jika engkau tidak tahu maka ini musibah
Dan apabila engkau sudah tahu maka musibahnya lebih parah

Betapa banyak buku yang telah kubaca
Kukatakan di dalam hati, semuanya kubenarkan
Kemudian tatkala kutelaah untuk kali kedua
Kutemui kesalahan maka kubenahi (agar benar)

Mencela Ulama Ahlus Sunnah ::
Ketahuilah semoga engkau dirahmati Alloh, bahwa daging para ulama itu beracun
[Imam Ibnu Asakir dalam Tabyin Kadzibil Muftari. Melalui perantaraan al-Aqwaal hal. 2]

Jaga lidahmu untuk berujar dari petaka
Sebab petaka itu bergantung pada ucapan

Tempuhlah Jalan Keselamatan ::
Kau dambakan keselamatan, tapi engkau tak menempuh jalurnya
Sungguh bahtera tak kan pernah berlayar di daratan

Kebenaran itu akan menang dan mendapat ujian,
maka janganlah heran, sebab ini adalah sunnah ar-Rahman (sunnatullah)

Menolak kebenaran ::
Jika engkau tidak tahu maka ini musibah
Dan apabila engkau sudah tahu maka musibahnya lebih parah

Tergesa-gesa ::
Barang siapa yang tergesa-gesa ingin memetik sesuatu sebelum saatnya,
niscaya ia akan dihukumi dengan kegagalan mendapatkannya.

Jangan Ikuti Hawa Nafsu ::
Hawa nafsu itu bagaikan anak kecil, bila kau manjakan maka sampai besar
ia akan terus senang menyusu dan bila kau hentikan maka akan berhenti

Nasehat Ibnu Qayyim :: [dalam Madarijus Salikin (III/200)]

Apabila seorang mukmin menghendaki supaya Alloh menganugerahinya bashiroh (ilmu yang mendalam) di dalam agama, pengetahuan akan sunnah Rasul-Nya dan pemahaman akan kitab-Nya dan diperlihatkan hawa nafsu, bidah, kesesatan dan jauhnya manusia dari shirothol mustaqim, jalannya Rasulullah Shallallahu alaihi wa Salam dan para sahabatnya. Apabila ia menghendaki untuk menempuh jalan ini, maka hendaklah ia persiapkan dirinya untuk dicemooh oleh orang-orang bodoh dan ahlul bidah, dicela, dihina dan ditahdzir oleh mereka. Sebagaimana pendahulu mereka melakukannya kepada panutan dan imam kita Shallallahu alaihi wa Salam.

Adapun apabila ia menyeru kepada hal ini dan mencemooh apa-apa yang ada pada mereka, maka mereka akan murka dan membuat makar kepadanya…

Sehingga dirinya menjadi orang yang :

Asing di dalam agamanya dikarenakan rusaknya agama mereka
Asing di dalam berpegangteguhnya ia kepada sunnah dikarenakan berpegangnya mereka dengan kebidahan
Asing di dalam aqidahnya dikarenakan rusaknya aqidah mereka
Asing di dalam sholatnya dikarenakan rusaknya sholat mereka
Asing di dalam manhajnya dikarenakan sesat dan rusaknya manhaj mereka
Asing di dalam penisbatannya dikarenakan berbedanya penisbatan mereka dengannya
Asing di dalam pergaulannya terhadap mereka dikarenakan ia mempergauli mereka di atas apa yang tidak disenangi hawa nafsu mereka
Kesimpulannya: ia adalah orang yang asing di dalam urusan dunia dan akhiratnya, yang masyarakat tidak ada yang mau menolong dan membantunya.
Karena dirinya adalah :
Seorang yang berilmu di tengah-tengah orang yang bodoh
Penganut sunnah di tengah-tengah pelaku bidah
Penyeru kepada Alloh dan Rasul-Nya di tengah-tengah penyeru hawa nafsu dan bidah
Penyeru kepada yang maruf dan pencegah dari yang mungkar di tengah-tengah kaum yang menganggap suatu hal yang maruf sebagai kemungkaran dan suatu hal yang mungkar sebagai maruf.

Bank Waktu

Monday, May 26th, 2008

Bank Waktu

Bayangkan jika sebuah bank memberikan anda uang sebesar $ 86.400 setiap hari. Dan jumlah tersebut harus dihabiskan dalam satu hari. Setiap sore uang yang tersisa akan dihapuskan dari account jika anda gagal untuk menggunakannya sepanjang hari. Apa yang akan anda lakukan ? Tentunya akan menggunakan uang tersebut setiap sen yang ada.Kita semua memiliki bank seperti itu. Namanya WAKTU.

Setiap pagi, anda diberikan waktu 86.400 detik Setiap malam akan dicatat, sebagai kehilangan, jika anda gagal untuk menginvestasikan dengan tujuan baik. Jumlah tersebut tidak akan dipindah-bukukan untuk keesokan harinya, juga tidak dapat dilakukan penarikan lebih dari jumlah yang telah ditentukan. Setiap hari akan dibuka sebuah account baru untuk anda, dan setiap malam account tersebut akan dihapuskan. Jika anda gagal untuk menggunakan simpanan pada hari itu, anda akan kehilangan. Hal ini tidak akan pernah kembali.

Tidak akan pernah ada penarikan untuk hari esok. Anda harus hidup pada saat ini, untuk simpanan hari ini Investasikan hal ini untuk memperoleh dari investasi tersebut kesehatan, kebahagiaan dan keberhasilan yang sepenuh-penuhnya.

Untuk menyadari nilai SATU TAHUN, tanyakan pada seorang pelajar yang gagal naik tingkat Untuk menyadari nilai SATU BULAN, tanyakan pada seorang ibu yang melahirkan seorang bayi prematur. Untuk menyadari nilai SATU MINGGU, tanyakan pada editor dari majalah mingguan. Untuk menyadari nilai SATU JAM, tanyakan seorang kekasih yang menanti untuk bertemu. Untuk menyadari nilai SATU MENIT, tanyakan seorang yang ketinggalan kereta apiUntuk menyadari nilai SATU DETIK, tanyakan pada seseorang yang baru saja terhindar dari kecelakan. Untuk menyadari nilai SEPERSERIBU DETIK, tanyakan pada seseorang yang baru saja memperoleh medali perak dalam Olympiade.

Hargailah setiap waktu yang anda miliki. Dan hargailah waktu itu lebih lagi, karena anda membagikannya dengan seseorang yang khusus, cukup khusus untuk membuang waktu anda. Dan ingatlah bahwa waktu tidak akan menunggu seseorang pun. Kemarin adalah sejarah. Hari esok adalah sebuah misteri dan hari ini adalah suatu hadiah. Itulah yang disebut dengan berkat. Waktu terus berjalan. Lakukanlah yang terbaik untuk hari ini.

fr:sahabat seperjuangan

TECHNOPRENEURSHIP : Inkubator Bisnis Berbasis Teknologi

Wednesday, May 21st, 2008

TECHNOPRENEURSHIP : Inkubator Bisnis Berbasis Teknologi

Perubahan
demi perubahan yang terjadi dari suatu zaman ke zaman berikutnya telah
mengantarkan manusia memasuki era digital, suatu era yang seringkali
menimbulkan pertanyaan : apakah kita masih hidup di masa kini atau
telah hidup di masa datang. Pertanyaan ini timbul karena hampir segala
sesuatu yang semula tidak terbayangkan akan terjadi pada saat ini,
secara tiba-tiba muncul di hadapan kita. Masa depan seolah-olah dapat
ditarik lebih cepat keberadaannya dari waktu yang semestinya, berkat
kemajuan teknologi informasi.

Teknologi komunikasi dan informasi atau teknologi telematika
(information and communication technology –ICT) telah diakui dunia
sebagai salah satu sarana dan prasarana utama untuk mengatasi
masalah-masalah dunia. Teknologi telematika dikenal sebagai konvergensi
dari teknologi komunikasi (communication), pengolahan (computing) dan
informasi (information) yang diseminasikan mempergunakan sarana
multimedia. Masalah di Indonesia yang paling utama adalah bagaimana
memecahkan masalah kesenjangan digital yang masih sangat besar dengan
menumbuh-kembangkan inovasi atau teknopreneur industri telematika.
Technopreneurship atau wirausaha teknologi merupakan proses dan
pembentukan usaha baru yang melibatkan teknologi sebagai basisnya,
dengan harapan bahwa penciptaan strategi dan inovasi yang tepat kelak
bisa menempatkan teknologi sebagai salah satu faktor untuk pengembangan
ekonomi nasional.

Pengusaha bidang teknologi (Technopreneur), khususnya teknologi
informasi (TI) membutuhkan adanya kebebasan dalam berinovasi, tanpa
harus terkekang oleh regulasi yang malah menghambat. Semakin pemerintah
mengendurkan ketatnya regulasi yang mengatur gerakan grass root
komunitas TI di Indonesia, maka akan memberikan dampak positif berupa
tumbuhnya TI itu sendiri dan juga aspek bisnisnya. Hal ini sangat
penting karena dilandasi pengalaman di lapangan, di mana seringkali
terjadi benturan antara kepentingan badan usaha sebagai unit bisnis
yang menuntut untuk selalu bersikap dan berperilaku sebagai
wirausahawan dan melakukan perubahan-perubahan, menyesuaikan antara
fakta yang ada dengan tuntutan perubahan serta memperbesar usaha,
tetapi di sisi lain ada kepentingan-kepentingan Pemerintah yang mungkin
saja berlawanan dengan kepentingan sebagai suatu unit bisnis. Padahal
dalam technopreneurship diperlukan semangat kompetisi yang dominan,
agar tidak tertinggal dari turbulensi bisnis global.

Dalam kurun waktu yang panjang, ilmu pengetahuan ditempatkan
pada “kotak” tersendiri secara eksklusif, seolah-olah diasingkan dari
kegiatan ekonomi. Dunia ilmu pengetahuan atau kita sebut dengan
pendidikan, dianggap bukan menjadi bagian dari suatu sistem ekonomi.
Dunia pendidikan dipandang sebagai suatu dunia tersendiri tempat
dibangunnya nilai-nilai luhur, sementara dunia ekonomi dipandang
sebagai dunia yang penuh dengan kecurangan, ketidakadilan, bahkan
seolah dunia tanpai nilai (value). Cara pandang yang dikotomis
tersebut, dalam kurun waktu yang lama belum dapat terjembatani secara
baik. Masing-masing pihak lebih mementingkan dan meng claim sebagai
pihak yang paling benar.

Yang perlu kita ketahui adalah bahwa dalam era ekonomi yang
berbasis ilmu pengetahuan, pendidikan merupakan wujud dari keberhasilan
pembangunan nasional suatu negara. Bahkan pendidikan dapat menjadi
keunggulan daya saing suatu negara. Dengan kata lain, pendidikan
memegang peran strategis dalam memajukan ekonomi bangsa. Dan hal ini
telah dibuktikan oleh negara-negara industri baru seperti Singapore,
Taiwan dan Malaysia, di mana dengan membangun sarana dan prasarana
pendidikan secara serius dalam sepuluh tahun terakhir, kualitas
kehidupan bangsa-bangsa tersebut terus meningkat.

Bagaimana dengan Indonesia ?. Selama berpuluh tahun, pendidikan
dijadikan alat politik penguasa, mulai dari jenjang pendidikan dasar
hingga perguruan tinggi. Akibatnya pendidikan berjalan lamban (too
slow), sehingga tidak dapat mengejar tuntutan perubahan. Pendidikan
belum memberikan kontribusi yang signifikan terhadap perubahan yang
terjadi atau masih sangat sedikit (too little). Bahkan pendidikan
seringkali terlambat (too late) dalam mengadaptasi perubahan, sehingga
pendidikan tertinggal dan belum mampu menjawab tantangan masa depan.
Faktor penyebabnya adalah karena kebijakan yang ada disamping tambal
sulam, juga dibuat secara tergesa-gesa. Bahkan pemerintah dinilai belum
memiliki visi dan komitmen yang jelas tentang pendidikan.

Sehingga dapat dikatakan bahwa Indonesia baru dan sedang
melakukan perubahan orientasi pendidikan dari pendidikan yang berbasis
akademis kepada pendidikan yang berbasis kompetensi. Disinilah pokok
bahasan tentang technopreneurship tersebut perlu dikembangkan. Memang
tidak mudah untuk dilaksanakan, namun menjadi sebuah tantangan bagi
kita untuk memajukan bangsa ini pada masa yang akan datang.

___________
Tata Sutabri S.Kom, MM
Deputy Chairman of STMIK INTI INDONESIA,
Pemerhati Dunia Pendidikan TI, 
Jl. Arjuna Utara No.35 – Duri Kepa Kebon Jeruk,
Jakarta Barat 11510 Telp. 5654969,
e-mail : tata.sutabri@inti.ac.id .

Selalu Ada Debu Dosa

Monday, May 19th, 2008

Tazkiyatun Nafs
26/4/2008 | 19 Rabiul Akhir 1429 H | Hits: 887

Selalu Ada Debu Dosa

Oleh: Muhammad Nuh

dakwatuna.com - Dosa tak ubahnya seperti tiupan angin di tanah
berdebu. Wajah terasa sejuk sesaat, tapi butiran nodanya mulai
melekat. Tanpa terasa, tapi begitu berbekas. Kalau saja tak ada
cermin, orang tak pernah mengira kalau ia sudah berubah.

Perjalanan hidup memang penuh debu. Sedikit, tapi terus dan pasti;
butiran-butiran debu dosa kian bertumpuk dalam diri. Masalahnya,
seberapa peka hati menangkap itu. Karena boleh jadi, mata kepekaan pun
telah tersumbat dalam gundukan butiran debu dosa yang mulai menggunung.

Seorang mukmin saleh mungkin tak akan terpikir akan melakukan dosa
besar. Karena hatinya sudah tercelup dengan warna Islam yang teramat
pekat. Jangankan terpikir, mendengar sebutan salah satu dosa besar
saja, tubuhnya langsung merinding. Dan lidah pun berucap,
"Na’udzubillah min dzalik!"

Namun, tidak begitu dengan dosa-dosa kecil. Karena sedemikian
kecilnya, dosa seperti itu menjadi tidak terasa. Terlebih ketika
lingkungan yang redup dengan cahaya Ilahi ikut memberikan andil. Dosa
menjadi biasa.

Rasulullah saw. bersabda, "Jauhilah dosa-dosa kecil, karena jika ia
terkumpul pada diri seseorang, lambat laun akan menjadi biasa."

Dalam beberapa kesempatan, Rasulullah saw. mewanti para sahabat agar
berhati-hati dengan sebuah kebiasaan. Karena boleh jadi, sesuatu yang
dianggap ringan, punya dampak besar buat pembentukan hati.

Dari Anas Ibnu Malik berkata, "Rasulullah saw. menyampaikan sesuatu di
hadapan para sahabatnya. Beliau saw. berkata: `Telah diperlihatkan
kepadaku surga dan neraka, maka aku belum pernah melihat kebaikan dan
keburukan seperti pada hari ini. Jika kalian mengetahui apa yang aku
ketahui niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.’ Anas
berkata, "Tidak pernah datang kepada sahabat Rasulullah suatu hari
yang lebih berat kecuali hari itu." Berkata lagi Anas, "Para sahabat
Rasulullah menundukkan kepala-kepala mereka dan terdengar suara
tangisan mereka." (Bukhari & Muslim)

Sekecil apa pun dosa, terlebih ketika menjadi biasa, punya dampak
tersendiri dalam hati, pikiran, dan kemudian perilaku seseorang.
Repotnya, ketika si pelaku tidak menyadari. Justru orang lain yang
lebih dulu menangkap ketidaknormalan itu.

Di antara dampak dosa yang kadang remeh dan tidak terasa adalah
sebagai berikut: pertama, melemahnya hati dan tekad. Kelemahan ini
ketika tanpa sadar, seseorang tidak lagi bergairah menunaikan ibadah
sunah. Semuanya tinggal yang wajib. Nilai-nilai tambah ibadah menjadi
hilang begitu saja. Tiba-tiba, ia menjadi enggan beristighfar.
Sementara, hasrat untuk melakukan kemaksiatan mulai menguat.

Kedua, seseorang akan terus melakukan perbuatan dosa dan maksiat,
sehingga ia akan menganggap remeh dosa tersebut. Padahal, dosa yang
dianggap remeh itu adalah besar di sisi Allah ta’ala.

Di antara bentuk itu adalah ucapan-ucapan dusta. Awalnya mungkin hanya
sekadar canda agar orang lain bisa tertawa. Tapi, ucapan tanpa makna
itu akhirnya menjadi biasa. Padahal di antara ciri seorang mukmin
selalu menghindar dari perbuatan laghwi, tanpa makna. Allah swt.
berfirman, "Sesungguhnya beruntunglah orang-orang beriman, (yaitu)
orang-orang yang khusyuk dalam salatnya, dan orang-orang yang
menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna."
(QS. 23: 1-3)

Seorang sahabat Rasul, Ibnu Mas’ud, pernah memberikan perbandingan
antara seorang mukmin dan fajir. Terutama, tentang cara mereka menilai
sebuah dosa. Beliau r.a. berkata, "Sesungguhnya seorang mukmin ketika
melihat dosanya seakan-akan ia berada di pinggir gunung. Ia takut
gunung itu akan menimpa dirinya. Dan seorang yang fajir tatkala
melihat dosanya, seperti memandang seekor lalat yang hinggap di
hidungnya, lalu membiarkannya terbang." (HR. Bukhari)

Ketiga, dosa dan maksiat akan melenyapkan rasa malu. Padahal, malu
merupakan tonggak kehidupan hati, pokok dari segala kebaikan. Jika
rasa malu hilang, maka lenyaplah kebaikan. Nabi saw. bersabda, "Malu
adalah kebaikan seluruhnya." (HR. Bukhari Muslim)

Keempat, sulitnya menyerap ilmu keislaman. Ini karena dosa mengeruhkan
cahaya hati. Padahal, ilmu keislaman merupakan pertemuan antara cahaya
hidayah Allah swt. dengan kejernihan hati.

Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i pernah menuturkan pengalaman
pribadinya. Ketika itu, ulama yang biasa disebut Imam Syafi’i ini
merasakan adanya penurunan kemampuan menghafal. Ia pun mengadukan hal
itu ke seorang gurunya yang bernama Waqi’. Penuturan itu ia tulis
dalam bentuk untaian kalimat yang begitu puitis.

Aku mengadukan buruknya hafalanku kepada Waqi’

Beliau memintaku untuk membersihkan diri dari segala dosa dan maksiat

Beliau pun mengajarkanku bahwa ilmu itu cahaya

Dan cahaya Allah tidak akan pernah menembus pada hati yang pendosa

Ada satu dampak lagi yang cukup memprihatinkan. Seseorang yang hatinya
berserakan debu dosa enggan bertemu sapa dengan sesama mukmin. Karena
magnit cinta dengan sesama ikhwah mulai redup, melemah. Sementara,
kecenderungan bergaul dengan lingkungan tanpa nilai justru menguat.
Ada pemberontakan terselubung. Berontak untuk bebas nilai.

Perjalanan hidup memang bukan jalan lurus tanpa terpaan debu. Kian
cepat kita berjalan, semakin keras butiran debu menerpa.
Berhati-hatilah, karena sekecil apa pun debu, ia bisa mengurangi
kemampuan melihat. Sehingga tidak lagi jelas, mana nikmat; mana maksiat.

Wanita beriman - Lebih jelita daripada bidadari

Monday, May 12th, 2008

Wanita beriman - Lebih jelita daripada bidadari

SELEPAS Allah menceritakan apa yang akan disediakan bagi musuh-musuhnya, iaitu azab api neraka, Dia meneruskannya dengan menyebut apa yang disediakan kepada hamba-hamba-Nya yang soleh.

Inilah cara al-Quran yang menghimpun antara ancaman dan galakan untuk menjadi perbandingan keadaan orang yang baik dengan mereka yang derhaka. Lantas Allah berfirman:

DAN SAMPAIKANLAH BERITA GEMBIRA KEPADA MEREKA YANG BERIMAN DAN BERBUAT BAIK BAHAWA BAGI MEREKA DISEDIAKAN SYURGA-SYURGA YANG MENGALIR SUNGAI-SUNGAI DI DALAMNYA. SETIAP MEREKA DIBERI REZEKI BUAH-BUAHAN DALAM SYURGA ITU. MEREKA MENGATAKAN, INILAH YANG PERNAH DIBERIKAN KEPADA KAMI DAHULU. MEREKA DIBERI BUAH-BUAHAN YANG SERUPA DAN UNTUK MEREKA DI DALAMNYA ADA ISTERI-ISTERI YANG SUCI DAN MEREKA KEKAL DI DALAMNYA. (Al-Baqarah ayat 25)

Allah memulakan ayat ini dengan menyuruh Rasulullah s.a.w. supaya menyampaikan berita gembira seperti yang dirakamkan dalam firman-Nya `Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik’, dengan maksud berilah berita gembira wahai Muhammad kepada orang yang beriman dan bertakwa.

Di dunia mereka berada dalam kebaikan, menghimpunkan keimanan dan amalan yang soleh, iaitu amalan soleh yang merangkumi semua jenis.

Diriwayatkan daripada Usman bin Affan katanya, “Amalan soleh merujuk kepada mereka yang ikhlas dalam amalan.”

Manakala Ali bin Abu Talib pula berpendapat, “Amalan soleh merujuk kepada mereka yang mendirikan sembahyang fardu.”

Nikmat

Sebagai balasannya ialah `bahawa bagi mereka disediakan syurga-syurga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya’, yakni mereka akan mendapat habuan yang begitu banyak dan besar lagi agung daripada Allah, seperti kebun-kebun dan taman-taman yang mempunyai pohon kayu yang banyak dan tempat tinggal, yang uniknya anak-anak sungai mengalir di bawah istana-istana dan tempat tinggal mereka.

Seterusnya, Allah menggambarkan nikmat mereka dengan `setiap mereka diberi rezeki buah-buahan dalam syurga-syurga itu’, iaitu tatkala dikurniakan dengan kurniaan dan diberi rezeki yang berupa buah-buahan enak dalam syurga, `mereka mengatakan, “Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu” iaitu ia seperti makanan yang pernah dimakan oleh mereka sebelum ini di dunia.

Ahli tafsir berkata, “Sesungguhnya ahli syurga diberi rezeki yang berupa buah-buahan yang didatangkan oleh malaikat dan apabila dihidangkan kepada mereka untuk kali keduanya, mereka berkata, “Inilah yang telah kamu bawa kepada kami sebelum ini.” Lantas malaikat menjawab,” Makanlah dulu wahai hamba Allah. Warnanya sahaja yang sama tetapi rasanya berlainan.”

Justeru, Allah menyebut `Mereka diberi buah-buahan yang serupa’, yakni hampir sama pada bentuk dan pandangannya tetapi bukan pada rasa dan perkhabarannya.

Ibn Jarir berkata, “Ia sama pada warna dan penglihatan tetapi tidak pada rasanya.” Ibn Abbas pula berkata, “Tidak serupa sesuatupun apa yang ada di syurga dengan apa yang ada di dunia kecuali pada namanya sahaja.”

Seterusnya Allah berfirman `dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci’, yakni di dalam syurga mereka dikurniakan isteri-isteri daripada bidadari-bidadari yang dibersihkan daripada kotoran dan najis, sama ada hissiah atau maknawiah.

Mujahid berkata, “Suci di dalam ayat itu bermaksud mereka bersih daripada haid, nifas, qada hajat termasuk hingusan.” Qatadah pula berkata, “Ia bermaksud suci daripada penyakit dan dosa.”

Manakala Ibn Abbas, seperti yang dinaqalkan oleh Ibnu Kathir berkata, “Ia bermaksud suci daripada kotoran dan penyakit.” Al-Mawardi pula di dalam kitabnya, al-Nukat al-Uyun berpendapat, “Ia bermaksud suci pada tubuh badan, akhlak dan perbuatan. Juga tidak haid, beranak dan qada’ hajat.” Dan inilah pendapat semua ulama tafsir.

Mengikut riwayat, wanita-wanita dunia yang benar-benar beriman adalah jauh lebih cantik dan jelita berbanding bidadari.

Ini sebagaimana yang dirakamkan Allah dalam surah al-Waqiah. Syeikh as-Syanqiti di dalam kitabnya Adwa’ al-Bayan menyebut, “Allah tidak menerangkan di sini sifat-sifat isteri tersebut tetapi dinyatakan sifat-sifat mereka yang jelita di dalam ayat-ayat-Nya yang lain.

Allah s.w.t. menyebut `dan mereka kekal di dalamnya’, iaitu mereka sentiasa dalam kesempurnaan kemuncak kebahagiaan.

Sesungguhnya, mereka bersama nikmat ini berada pada makam yang terpuji. Mereka berbahagia hidup bersama isteri-isteri mereka dengan penuh ketenangan yang kekal abadi tanpa sebarang kesusahan.

* DR. ZULKIFLI BIN MOHAMAD AL-BAKRI, Pensyarah Kanan Kolej Uniti, Pasir Panjang, Port Dickson, Negeri Sembilan.

===========================================================================================